qqdamai
A new sanctuary for my adventures
Wednesday, April 04, 2012
Wednesday, January 04, 2012
Welcoming 2012
Yang jelas awal tahun lalu saya habiskan untuk menikmati masa-masa bulan madu bersama misua, mulai dari nonton midnight (kesempatan yang langka banget waktu masi pacaran), wisata kuliner (minus sushi tentunya :(), serta memasak bersama (hohoho, ini siy terinspirasi setelah nonton master chef). Kita juga berencana untuk travelling ke negara-negara tetangga, klo ini siy untuk memanfaatkan passport yang udah berhasil dibikin misua. Tapi untuk yang satu ini terpaksa ditunda dulu, karena di saat iseng nyobain testpack (maklum deh ga pernah pegang testpack sebelumnya), yang muncul malah si garis dua :). Tentunya saya mengikuti saran dokter untuk tidak terbang dulu di trimester pertama dan ketiga. Hehehe, sekarang tahu kan kesibukan saya apa sepanjang tahun ini.
Walo tidak berencana menunda kehamilan, namun si garis dua tadi merupakan kejutan untuk kami berdua. Soalnya kita udah cukup jengah dengan pertanyaan: udah telat belum? dan sejenisnya. Saya sendiri cukup deg-degan menjalani kehamilan ini, karena selalu merasa belum mempersiapkan diri. Trimester pertama dilewati tanpa morning sickness, cuma ya bawaannya capek mulu. Hal ini menghilang saat trimester kedua, tapi muncul lagi di trimester ketiga. Setelah menjalani ketiga trimester ini dan juga proses melahirkan dan menyusui bayi, saya masih belum bisa membayangkan bagaimana kuatnya ibu-ibu yang melahirkan banyak anak menjalani proses itu berulang-ulang. Ya, mungkin saja karena saya baru menjalaninya untuk pertama kali, jadi berasanya sedikit rumit.
Tapi semua kerumitan itu serasa 'terbayar' begitu melihat senyum manis putri cantik kami, Dea. Selama lebih dari sebulan terakhir ini my life revolve around her. Misua pun kudu maklum dengan saingan barunya ini. Saat Dea lahir dan diletakkan didada untuk IMD, saya bahkan tidak terpikir untuk menghitung berapa jari jemarinya dan anggota tubuh lainnya. Sebaliknya, saya malah sibuk menangis mendengar suaranya dan terpesona saat matanya menatap ke arah saya. Duh, rasanya apapun tidak bisa menggantikan momen itu. Di saat itu saya bertekad, siap atau pun tidak, saya akan berusaha menjadi ibu untuknya. Dan sekarang, tanpa terasa satu bulan telah terlewati. Tidak lama lagi saya sudah harus mempersiapkan diri dan juga Dea agar dapat beradaptasi dengan jadwal ngantor. Semoga semuanya berjalan lancar, sementara ini, puas-puasin dulu ah menjalani hari bersama Dea :D.
Tuesday, September 13, 2011
Back from hiatus
Anyway, let me try with this word: marriage. It is a really a big big thing happened in my life, even now I’m still trying to believe that I finally did it. We are not only talking about the wedding (which is, well, when it comes to family, it become the complicated one) or honeymoon (ah, I never regret my decision for this one), but also about how to live our life as a married couple. And during these months, we’ve been enjoying every thing and hope that we will still be enthusiast for the rest of our life.
Starting the year with my beloved one makes it a great birthday celebration for me. After a month of hunting, we finally decided to move to a more comfy place. It’s nearby my hubby’s office and not far from my previous place. Well, we are not moving into our own house yet, but hopefully we will, later. Since this place is still a kind of “kos-kosan”, so I have not much preoccupied with things like house-chores since the laundry service is included and even though we have our tiny kitchen but we still enjoy culinary hunting around the area. And for sure, we still continue our dates just like before and we love it very much.
Back to work, I received good news for joining a workshop somewhere in Africa on March, of course with other team members. While waiting for the details, I directly prepare everything for renewing my passport. So on a gloomy day on 14 February, hubby and I ride a motorbike from the suburb to the Old City area of Jakarta, where immigration office located. Alas, that was not really our day, we were all wet because of rain on our way to the office, almost skipped our lunch to avoid missing the queue, and the worst: my passport application was denied since my family card was not signed by my aunt (and yes, after years of using it, I just noticed it right there in the office). To make it even worser, my aunt told me that the original family card that includes my name in the list has been renewed, leaving me unlisted :(. For sure, it shocked me much, since I could still use the copy of the previous family card for renewing my Bandung ID card 3 years ago.
Confused with what should be chosen: whether paying extra money to someone who could solve my problem instantly or trying to list my self in the family card (which will cost me money and time to arrange it in Bandung), I received a news from the office, that I won’t be joining the team to Africa. Relieved, since I did not have to deal with this passport thing for now, but also sad since I have imagine myself travelling to Africa. But, looking at the bright side, I could still enjoy my days with hubby (btw, he got his passport done in 10 days!). Anyway, I decided to arrange my new ID card in Bekasi, where hubby is enlisted in his sister’s house, so that we could avoid going back and forth to Bandung if the same problem persists.
Enjoying our life as newlywed, we never imagine that people starts asking about having a baby. For sure, we really want to have children in the family, but isn’t it too fast to ask about it yet? Come on guys, it’s our second month. I knew it is part of ‘the never ending questions’ in our country, but still surprise when people asking: have you missed your period? Or have you feel any nausea/morning sickness yet? Gladly, hubby responded it much better than me and we agree that those people care us much. Anyhow, we decide to take it easy and let anything happened as the way it is.
Thursday, March 17, 2011
Lessons learned from Japan Earthquake
Silahkan dibaca tulisan beliau di bawah ini, semoga beliau berkenan tulisan ini disebarluaskan. Perhatian: tulisan ini lumayan panjang.
Sedikit berbagi di bawah ini untuk kita semua Di Kashiwa,
# Tetap tenang, tidak panik pada saat terjadi gempa
# Sangat percaya bahwa bangunan yang mereka tempati sesuai dengan persyaratan tahan gempa dengan kekuatan tertentu.
# Evakuasi menjadi kebutuhan dan mudah dilaksanakan bila sering dilatihkan
# Tempat penampungan bukan merupakan bangunan khusus, tetapi ruangan umum yang lapang dan sudah disiapkan
Pelajaran 3:
# Sekalipun tahu pemahaman dasar penyelamatan diri dilakukan setelah gempa reda, untuk ukuran gempa kuat berlangsung lebih dari satu menit dan sedang berada di gedung tinggi, secara psikologi
# Seperempat jam berikutnya, baru muncul penghuni gedung lainnya yang mungkin menerapkan pemahaman berevakuasi setelah getaran gempa berakhir.
# Jepang memiliki jaringan komunikasi telepon modern, akan tetapi tetap saja terjadi gangguan jaringan, bisa karena kerusakan infrastruktur atau terjadi panggilan telepon luar biasa. Artinya, jaringan HP sebagai alat warning justru tidak berfungsi pada 10-20 menit pertama.
# Tidak terlihat kepanikan, histeri atau tangisan dari warga Jepang.
# Pada saat darurat, penanggung jawab kantor atau gedung berubah fungsi secara otomatis menjadi petugas komando evakuasi.
# Perintah selanjutnya setelah diketahui tidak ada korban adalahmeminta semua pulang ke rumah masing2, bila tidak ada kepentingan karena aliran air juga pemanas ruangan akan diputuskan.
ruangan bagi yang tidak bisa pulang. Sementara antrian menunggu taksi lebih dari 5 meter, sabar dan tertib walau cuaca dingin sekali. Pertokoan berlantai dan parkir rupanya harus tutup dan menghentikan kegiatan. Sementara pegawai supermarket berubah fungsi menjadi petugas tanggap darurat, dilengkapi seragam dan helm.
# Evakuasi lewat tangga, karena rutin latihan sudah menjadi budaya, bukan hanya diperkantoran, juga di hotel, dan pertokoan
# Sabar dan tidak panik pada kondisi darurat bukan hanya diperintahkan tetapi perlu dilatihkan
# Dalam masa tanggap darurat, social responsibility dari seluruh lapisan masyarakat perlu ditumbuhkan, dilatih, dijaga dan diterapkan.
# Membangun sistim tanggap darurat merupakan komitment yang harus dijalankan bukan hanya di undangkan. Pelakunya bukan hanya pemerintah tapi semua komponen masyarakat
# Untuk daerah rawan gempa, membangun gedung tahan gempa suatu keharusan atau dibatasi ketinggiannya
# Untuk tsunami: tidak ada yang mampu melawan kekuatan gelombang air beserta dengan seluruh material yang diangkutnya.
# Perlu berhitung membangun kawasan industri, apalagi industri kimia dikawasan rawan gempa atau tsunami
# Dalam kondisi darurat, perlu dilatihkan bahwa semua dari kita adalah korban, jadi tidak perlu meminta perhatian lebih dari yang lain
# Dalam kondisi darurat, perlu dilatihkan sabar dalam mengantri sehingga bisa mengurangi rasa stress dan menghindarkan dari kekacauan
Tahukah kita berapa tinggi tangga pemadam kebakaran kita
Membangun kawasan pantai, menghabiskan mangrove dan karang tidak bisa dilarang asal diterima konsekuensinya, memang tidak ada perbuatan tanpa resiko akan tetapi resiko terhitung Sementara demikian pelajaran baru untuk seminggu.
Masalah yang muncul sekarang, biar Jepang negara maju, adalah logistik. Selain bbm mulai langka juga supermarket di serbu pembeli. Harus antri meteran untuk masuk supermarket.
Beberapa pendapat saya sampaikan di bawah ini:
1. Bantuan ke Jepang.
2. Siaran TV
3. EWS
Tidak ada suatu alatpun yang dapat diandalkan untuk warning tsunami kecuali gempa itu sendiri.
Untuk orang jepang, alat EWS tsunami adalah gempa kuat itu sendiri. Otomatis sirene di kawasan pantai berbunyi dan warga pantai evakuasi ke daerah tinggi. Ini diperlihatkan pada saat gempa pada tanggal 9 Maret 2011 (kekuatan 6.3).
1. Dead : 1,154 persons
2. Missing : 1,956 persons
3. Injured : 2,650 persons
4. Completely collapsed houses : 4,716
5. Half and partially damaged houses : 68,229
6. Fires : 224 events (142 fires were already extinguished)
| Reactions: |
Saturday, March 12, 2011
Condolence for Japan
Semua kegiatanku di hari berikutnya sangat lancar, hanya saja ada beberapa hal-hal yang tidak bisa dilakukan di hari Sabtu, sehingga aku memutuskan mempercepat jam kepulangan ke Jakarta *horeee*. Sambil menunggu orang yang mau diajak rapat, aku berdiskusi dengan teman-teman lain sambil sesekali mengalihkan pandangan ke TV yang ada di ruangan sebelah. Tiba-tiba ada berita yang langsung jadi perhatian semua orang di gedung itu, gempa 8.9 SR (tapi kemudian dikoreksi menjadi 9 SR) terjadi di Pulau Honshu, Jepang.
Saat berita ini menjadi perhatianku, ternyata aku harus segera rapat. Selesai rapat, langsung menuju ke tempat makan dan selanjutnya kembali ke hotel. Sms dari ibuku langsung masuk, menanyakan apakah gempa di Jepang juga melanda tempat tinggal Om-ku di Kyoto. Aku segera menyalakan TV dan membuka laptop, mengecek wilayah mana saja yang terkena dampak gempa dan tsunami. Ternyata Kyoto berada di wilayah aman, sedangkan Tokyo, Sendai, dan daerah utara pulau tersebut terkena dampak parah. Langsung teringat dengan beberapa teman yang berdomisili di Tokyo, aku langsung membuka Facebook. Walaupun tidak yakin mereka bisa mengakses internet dalam kondisi seperti itu. Tapi ajaibnya justru FB sangat bisa diandalkan untuk mengupdate kondisi mereka karena saluran telepon langsung mati pada saat gempa terjadi sedangkan internet masih berfungsi. Hanya saja, seorang teman yang sedang menuntut ilmu di Sendai belum diketahui keberadaannya walo sudah dapat dipastikan selamat. Sepertinya ia mencoba mencari pertolongan dengan melakukan perjalanan ke tempat yang lebih aman.
Jepang saat ini mengalami musim dingin, sehingga seorang teman yang panik melupakan jaket saat membawa sang batita keluar rumah. Untungnya ada tetangga yang berbaik hati memberikan jaket. Sang suami saat itu berada di kantor, tapi tidak bisa segera pulang karena jalur transportasi terputus dan ia memutuskan untuk menginap di penampungan stasiun. Walaupun hati sangat ketar-ketir, teman ini meneguhkan diri untuk kembali ke rumah karena hari semakin gelap dan dingin, namun ternyata sulit sekali untuk tidur di tengah-tengah gempa susulan tersebut.
Aku sendiri hanya bisa terpaku, menyaksikan tsunami menyapu areal pertanian, perumahan, pertokoan, dan sebagainya. Melihat betapa kuatnya arus laut itu menghanyutkan semua bangunan dan kendaraan yang dilewatinya dan betapa cepatnya arus itu bergerak. Referensiku mengenai gambaran tsunami masih sangat minim, hanya pernah melihat dari hasil kamera amatir saat tsunami Aceh dan 'bekal' dari menonton film Krakatoa: The Last Days. Menonton film Krakatoa: The Last Days ini di Metro TV benar-benar membuatku tersadar, betapa secara personal pun aku belum punya bekal untuk bisa menyelamatkan diri dari bencana yang ada di negeri ini. Berbekal pengetahuan saja jelas tidak cukup, harus ada latihan rutin dan sarana yang mendukung untuk meminimalkan korban jiwa.
Walaupun Jepang merupakan negara yang dianggap memiliki kesiapsiagaan yang tinggi terhadap bencana (khususnya gempa bumi dan tsunami), namun tetap saja, gempa yang lalu tetap memakan korban dalam jumlah besar. Sampai detik ini belum ditemukan suatu cara untuk mengetahui kapan dan di mana gempa akan terjadi. Sistem peringatan dini tsunami telah dapat dikembangkan, namun itu hanya untuk memberikan 30-45 menit menit waktu bagi warga untuk dievakuasi segera setelah gempa terjadi. Secara visual, kecepatan arus tsunami kemaren melebihi kecepatan kendaraan yang bergerak di dekatnya, sehingga aku sendiri tidak yakin apakah penyelamatan dengan menggunakan kendaraan akan efektif. Ini hanya satu dari segudang tugas yang perlu diselesaikan dalam peningkatan kapasitas dalam penanggulangan bencana di negeri ini, walaupun hal tersebut bukan berarti dapat menghilangkan bencana berikut korbannya.
Sms lain masuk ke HP-ku, lagi-lagi sang bunda memintaku menghubungi Om yang berdomisili di Kyoto tadi. Kucoba mengirim email, tapi gagal, ternyata karena kesalahan pengetikan, akhirnya email terkirim. Dan yang dapat kulakukan sekarang hanyalah menunggu. Menunggu kabar mengenai kondisi Om dan istrinya, menunggu kabar dari teman yang belum terlacak keberadaannya oleh KBRI, menunggu memberikan kabar baik kepada ibuku. Semoga mereka semua selamat dan berada dalam keadaan sehat wal'afiat.
Tuesday, January 04, 2011
The M word
It was a fine morning with sunshine that really made my day and I spent that time preparing things beyond my routine. As soon as I got myself ready for work, he attentively waited for me at the door while putting on his shoes. Then he walked me to the bus stop, making sure my bus was there waiting for me. I was releasing his hand when he unexpectedly shook it and kissed me on my cheeks and said: take care. I was stunned for a while but then gave him a smile and waved my hand to him. I saw him walking to his office and then I walked into the bus.
The same thing happened the next days on every working day.
A new routine for both of us and we really enjoy it.
| Reactions: |
Sunday, October 24, 2010
Start Over
I heard that song during TV commercial break while I finally have my me time with scratchy. This 1 minute commercial break shows a girl walking on a string between tall buildings and meets a man on another rooftop, that’s when those lyrics were heard. It seems so simple, showing that by leaving things behind, you could move on and start over again. I wish making things right and starting over again could be done that fast.
